
Gerakan ini hadir bukan sekadar sebagai simbol gaya berpakaian, melainkan sebagai kritik terbuka terhadap lunturnya kebanggaan nasional di ruang publik. Melalui manifesto bertajuk “Menjunjung Langit Identitas, Membumikan Jiwa Kebangsaan”, Pejuang Peci Hitam menegaskan bahwa peci hitam adalah “Mahkota Rakyat Jelata”, simbol harga diri bangsa yang selama ini tereduksi hanya sebagai atribut seremonial atau keagamaan semata.
Komunitas ini memosisikan peci hitam sebagai alat perlawanan terhadap inferioritas bangsa Indonesia di hadapan dominasi budaya asing yang terus membentuk pola pikir dan gaya hidup masyarakat.
Dalam manifesto tersebut, Pejuang Peci Hitam menegaskan kembali makna strategis peci hitam sebagai simbol persatuan lintas batas, yang melampaui sekat agama, suku, dan kelas sosial; benteng kedaulatan budaya dalam menghadapi hegemoni gaya hidup Barat yang mencabut akar tradisi; serta identitas intelektual bangsa, mengingatkan bahwa gagasan besar para pendiri republik lahir di bawah naungan peci hitam.
“Peci hitam bukan sekadar kain beludru. Ia adalah garis tegas yang memisahkan bangsa yang memiliki jati diri dengan bangsa yang hanya mengekor. Kami tidak sedang bernostalgia, kami sedang membangun masa depan dengan harga diri,” tegas Ketua Umum Pejuang Peci Hitam, A. Tarmizi, dalam pernyataannya.
Tak berhenti pada retorika, manifesto ini juga memuat empat pilar aksi nyata yang akan dijalankan oleh komunitas tersebut. Pilar pertama adalah Restorasi Marwah, yakni mengembalikan citra peci sebagai simbol kepemimpinan yang sederhana dan membumi. Kedua, Edukasi Historis, melalui kampanye masif mengenai peran peci hitam dalam sejarah perjuangan dan diplomasi kemerdekaan Indonesia.
Pilar ketiga adalah Gotong Royong, berupa kewajiban aksi sosial bagi seluruh anggota komunitas sebagai perwujudan nilai kebangsaan. Sementara pilar keempat, Ekonomi Berdikari, diwujudkan melalui komitmen menggunakan dan mempromosikan produk pengrajin lokal guna menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Pejuang Peci Hitam mengajak seluruh elemen bangsa—mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga pejabat publik—untuk kembali mengenakan peci hitam dalam aktivitas sehari-hari sebagai pernyataan sikap kebangsaan.
“Saya Indonesia, dan saya berdaulat,” menjadi seruan moral yang digaungkan dalam peluncuran manifesto tersebut.
Pejuang Peci Hitam sendiri merupakan gerakan akar rumput yang berfokus pada penguatan identitas nasional melalui simbol budaya Indonesia. Berangkat dari kegelisahan atas lunturnya nasionalisme, komunitas ini bertujuan menyatukan visi kebangsaan di bawah satu simbol kolektif yang inklusif dan membumi. (Red)

Related posts:
- FJP2 Bersama PT Jamkrida Jakarta Gelar Baksos
- Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat, Pangdam XVI/Pattimura Serahkan 20 Unit Handtraktor Bantuan Presiden RI
- Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, resmi menaikkan pangkat 65 perwira tinggi TNI, salah satunya Brigjen TNI Nursamsudin
- Kementrian Komunikasi dan Digital Tegaskan Kebebasan Pers di Era Pemerintahan Prabowo Tetap Terjaga


